Salah Siapa ?
( Part II )
- T.A.A. -
Aku semakin tenggelam ke
dalam pemikiranku, sampai-sampai aku membayangkan bahwa sekarang ini aku sedang
duduk diatas batu besar di tengah kolam hutan. Asyik berpikir sendiri, tanpa
peduli apapun yang terjadi di sekitarku.
Sayup-sayup kudengar sebuah
suara halus dan manis, suara itu memanggil namaku dengan pelan...
Aku menoleh ke arah suara
itu berasal, dan benar dugaanku, suara manis nan lembut itu tak lain dan tak
bukan adalah milik Brigitta, seorang perempuan muda dan sahabat karibku sejak
kecil, yang entah karena kehendak Tuhan atau apa, selalu bersamaku dari
kanak-kanak sampai remaja. Dari kecil sampai sekarang, kepribadiannya selalu
sama. Ramah, manis, dan lembut. Tak pernah sekalipun kulihat kemarahan muncul
di wajahnya yang cantik bagaikan bunga.
Aku membalas panggilannya
dengan lembut,”Ada apa ?”
Ia lalu menjawab,”Kenapa kamu
diam saja Agung ? Yang lain semuanya senang dan gembira, tapi kamu hanya diam
dan tidak berbicara ? Apakah kau sedang tidak enak badan ? Atau apakah ada
sesuatu yang membuatmu murung ?”
Aku menjawabnya dengan
tenang,”Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”
“Sesuatu apa ?”Balasnya.
“Bukan apa-apa. Hanya
sesuatu, yang menarik...untuk dipikirkan,”Jawabku.
“Memangnya apa ? Aku
penasaran,”Balasnya lagi.
“Aku tidak bisa menjelaskan
itu padamu. Yang pasti itu tentang kelas kita sekarang.”
“Oh,
aku pikir apa. Ya sudah,”Katanya sambil meninggalkanku.
Aku
sengaja tidak memberitahunya hal itu. Karena aku tidak mau, ia menjadi bingung
sepertiku. Di samping itu, aku juga tidak ingin menerima komentar-komentar yang
menyangkut apa-apa yang kupikirkan. Tidak, aku sudah capek dengan semua itu...
Matahari
semakin naik ke atas langit, sama juga dengan antusiasme murid. Bukan dalam hal
belajar, namun dalam hal bercengkerama dengan sahabat-sahabat sesama pelajar.
Memang jaman ini jaman yang aneh...
Guru
demi guru masuk dan keluar dari kelasku. Masing-masing masuk dan keluar
dengan bermacam ekspresi. Marah, kesal,
senang, datar, dan bahkan sedih. Semuanya diukir oleh para pelukis atmosfer
kelas, yang bernama “pelajar”.
Terkadang
guru juga mencurahkan isi hati mereka pada muridnya. Entah isi hatinya penuh
dengan kekesalan atau kemarahan, atau kegembiraan dan kedamaian. Semua itu
ditentukan oleh para murid.
Hal
itu membuatku berpikir lagi, sebenarnya siapa yang membuat isi hati para guru
itu berisi seperti itu ?
Apakah
memang benar murid-murid yang berbuat demikian ?
Ataukah
sang guru itu sendiri yang berbuat demikian ?
Mengapa
isi hati mereka terkadang penuh dengan kemarahan dan ketidakpuasan terhadap
murid-murid ? Mengapa terkadang mereka tak menaruh sedikitpun perhatian pada
murid ? Padahal merekalah yang bertanggung jawab mendidik para murid ?
Juga
mengapa para murid begitu tidak peduli pada guru ? Padahal tanpa guru, mereka
mungkin akan menjadi anak-anak berandalan, yang tidak beradap dan berpendidikan
?
Mengapa
hubungan guru dan murid begitu penuh dengan keburukan ?
Mengapa kedamaian hanya
muncul sesekali pada mereka ?
Salah
siapa ini ?
Aku
bagaikan ganggang di dasar sungai pegunungan, yang setiap hari berusaha untuk
bertahan agar tidak terbawa arus sungai yang kian hari kian deras, ditambah
lagi dengan akar ganggang yang kian hari kian lemah. Begitulah aku di kelas,
kian hari semakin tidak kuat untuk tidak ikut-ikutan mereka yang meramaikan
kelas.
Aku
berusaha membuat pikiranku tetap jernih. Menerapkan satu prinsip : Guru dan
teman harus diperlakukan dengan baik. Itu saja.
Namun
lama-lama, kedua pihak itu semakin mendorongku untuk memilih satu pihak saja.
Kelak mungkin akan ada saatnya dimana aku memang benar-benar harus memilih satu
sisi saja. Teman, atau guru...
Bersambung...

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Harap komen dengan penuh tanggung jawab dan sopan.....
Jangan spam di bagian komen blog ini !
Jangan mengiklankan hal-hal berbau porno di kolom komen !
Selamat berkomentar !