Salah Siapa ?
( Part III )
- T.A.A. -
Ketika
aku pulang, aku menghampiri Henry, yang sedang berdiri di dekat gerbang
sekolah, sambil asyik bermain dengan ponsel miliknya.
Aku
lalu bertanya padanya,”Henry, menurutmu tuh, guru-guru disini itu bagaimana ?”
Dia
dengan cepat langsung menjawab,”Menyebalkan. Terlalu sering memberi pr. Selalu
saja ada penilaian di tiap minggu. Aku bahkan tidak sempat lagi jalan-jalan di
akhir minggu karena itu. Coba mereka bisa merasakan apa yang dirasakan murid.
Pasti mereka tidak akan begini...”
“Oh,
begitu ya. Kata-katamu itu ada benarnya juga. Ya sudahlah, aku pergi
dulu,”balasku singkat padanya.
Murid
berkata bahwa guru terlalu membebani mereka. Aku sebagai murid tidak bisa
berkata apapun selain “ada benarnya”. Karena sebenarnya akhir-akhir ini banyak
sekali tugas yang diberikan...
Tiba-tiba
saja, kulihat anak-anak berandalan sekolah sedang berkelahi di lapangan. Mereka
tidak memakai senjata apapun, melainkan hanya tangan dan kaki-kaki mereka yang
kekar. Walau begitu, perkelahian mereka begitu membabi buta. Aku merasa
beruntung karena aku jauh dari tempat mereka.
Tidak
lama kemudian, banyak anak-anak berdatangan, mereka menonton perkelahian yang
sedang berlangsung, tanpa menyadari kalau mereka sendiri bisa-bisa terkena
‘pukulan nyasar’.
Guru-guru
berdatangan, mereka melerai para berandal dengan cepat. Masing-masing dari
anak-anak itu segera dibawa ke sebuah ruangan khusus. Aku bertanya-tanya, apa
yang menyebabkan perkelahian itu ?
Kulihat
seorang guru sedang memandang para berandalan yang dibawa ke ruang khusus. Dari
wajahnya bisa kulihat perasaan bingung sedang ia rasakan sekarang.
Aku
menghampiri guru itu dan bertanya,”Tadi kenapa ada yang berkelahi bu ?”
Guru
itu menjawab,”Saya juga tidak tahu. Tapi saya dengar mereka sedang tidak akur.
Saya sendiri juga tidak mau tahu sebenarnya, karena mereka itu memang sulit
dikendalikan !”
Aku
pun bertanya lagi,”Sulit dikendalikan ?”
“Ya,
seperti misalnya mereka itu jarang taat peraturan atau nasihat guru. Itulah
dia. Di buat tegas pun mereka masih saja begitu. Saya jadi bingung cara
mengatasi mereka.”
“Oh,
begitu ya bu. Kalau begitu, kenapa tidak dilaporkan ke orang tua mereka bu ?”
“Sudah
sering sekali cara itu dilakukan. Hasilnya percuma,”Jawabnya singkat.
“Hm...berarti
tidak ada jalan keluar ya bu ?”
“Ya....begitulah.”
Aku
meninggalkan guru itu dengan sebuah pemikiran. Murid-murid berkata kalau mereka
yang susah. Sementara guru berkata kalau justru merekalah yang menderita.
Lantas, siapa yang membuat susah siapa ?
Rasa-rasanya
perkara ini bagaikan lingkaran setan, tiada akhirnya....tiada titik
terangnya....
Atau
memang mungkin sudah seperti itu halnya ?
Atau
memang murid dan guru tidak akan bisa sepenuhnya berdamai ?
Mungkinkah
perkara ini adalah kesalahan kedua pihak ?
Ataukah
justru tidak ada seorangpun yang bersalah, dan hanya ada kesalahpahaman ?
Terlalu
banyak pertanyaan berdengung di pikiranku. Rasa-rasanya aku jadi bingung
sendiri.....
Aku
lalu berjalan keluar dari kompleks sekolah. Kaki-kakiku berjalan dengan lambat.
Entah karena lelah, atau karena aku terlalu banyak berpikir...
Semakin
lama aku berjalan, semakin lama aku berpikir. Perkara itu sulit sekali untuk
berlalu dari pikiranku. Langkah-langkahku semakin berat dibuatnya...
Lama-kelamaan
aku berpikir...sepertinya akulah yang salah...
Aku
terlalu banyak berpikir negatif tentang itu....sampai-sampai hanya yang
buruk-buruk kuperhatikan....
Tidakkah guru-guru dan murid sering bercanda ria dan tertawa bersama di banyak waktu ?
Tidakkah guru-guru dan murid sering saling bercengkerama di waktu rehat ?
Bukankah
mereka semua bergembira bersama di waktu acara-acara sekolah ?
Astaga...memang
benar aku yang salah....pikiran negatifku telah membutakanku dari segala hal
positif itu....
Memang
benar banyak masalah...memang benar banyak perkara...namun juga banyak canda
tawa....damai...dan gembira...di antara guru dan murid.
Tidak
ada seorangpun yang salah. Hanya pikirankulah yang salah selama ini...
Aku
sudah salah kaprah dari awal menanggapi perkara ini. Aku hanya melihat yang
buruk saja, tanpa melihat yang baik.
Mungkin
sebaiknya aku merubah pandanganku...
Mungkin
aku harus mengubah jalan pikirku....
Melihat
kedua sisi....baik dan buruk....
Dengan
begitu....aku akan baik-baik saja...tenang dan damai....
sama
seperti Brigitta, yang tidak hanya melihat sisi burukku ini, namun juga sisi
baikku. Sehingga ia terus bersahabat denganku...
Ya...mungkin
seharusnya begitu.
TAMAT

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Harap komen dengan penuh tanggung jawab dan sopan.....
Jangan spam di bagian komen blog ini !
Jangan mengiklankan hal-hal berbau porno di kolom komen !
Selamat berkomentar !